Studi Geolistrik untuk Analisis Kestabilan Lereng pada Kegiatan Konstruksi dan Pertambangan

GN

Admin GN Consulting

Admin Konten

Diterbitkan pada

23 June 2026

Studi Geolistrik untuk Analisis Kestabilan Lereng pada Kegiatan Konstruksi dan Pertambangan
Kestabilan lereng merupakan salah satu aspek penting dalam kegiatan konstruksi dan pertambangan karena berhubungan langsung dengan keselamatan kerja, keberlangsungan operasional, serta perlindungan lingkungan. Kegagalan lereng dapat menyebabkan longsoran yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur, terganggunya aktivitas produksi, hingga menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu, diperlukan investigasi kondisi bawah permukaan secara menyeluruh untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kestabilan lereng. Salah satu metode yang banyak digunakan dalam kajian geoteknik adalah metode geolistrik resistivitas (electrical resistivity method), yaitu metode geofisika yang memanfaatkan perbedaan nilai tahanan jenis batuan dan tanah terhadap aliran arus listrik untuk menggambarkan kondisi bawah permukaan (Reynolds, 2011).

Metode geolistrik bekerja dengan cara menginjeksikan arus listrik ke dalam tanah melalui elektroda arus dan mengukur beda potensial yang dihasilkan melalui elektroda potensial. Nilai resistivitas yang diperoleh dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain jenis litologi, tingkat pelapukan, kandungan air, porositas, permeabilitas, serta keberadaan rekahan atau sesar. Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh penampang dua dimensi (2D) atau tiga dimensi (3D) yang dapat digunakan untuk menginterpretasikan kondisi geologi bawah permukaan secara lebih detail (Loke, 2004).

Dalam analisis kestabilan lereng, metode geolistrik memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi zona pelapukan yang sering menjadi faktor penyebab terjadinya longsor. Lapisan batuan yang telah mengalami pelapukan umumnya memiliki kekuatan geser yang lebih rendah dibandingkan batuan segar. Pada hasil pengukuran resistivitas, lapisan pelapukan biasanya ditunjukkan oleh nilai resistivitas rendah hingga sedang, sedangkan batuan dasar yang masih kompak menunjukkan nilai resistivitas yang lebih tinggi. Ketebalan dan distribusi zona pelapukan ini menjadi parameter penting dalam menentukan tingkat kerentanan suatu lereng terhadap pergerakan massa tanah (Telford et al., 1990).
Gambar : Contoh Pemodelan Geolistrik 2 Dimensi

Selain zona pelapukan, metode geolistrik juga mampu mengidentifikasi bidang gelincir potensial yang merupakan zona tempat terjadinya pergerakan tanah atau batuan saat longsor. Bidang gelincir umumnya terbentuk pada batas antara dua lapisan yang memiliki karakteristik fisik berbeda, seperti kontak antara tanah pelapukan dan batuan dasar atau antara lapisan jenuh air dan lapisan kedap air. Pada penampang resistivitas, bidang gelincir dapat dikenali melalui perubahan nilai resistivitas yang kontras sehingga membantu dalam menentukan geometri dan kedalaman zona longsor potensial (Hack, 2000).

Keberadaan air tanah merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kestabilan lereng. Air yang terakumulasi dalam massa tanah dapat meningkatkan tekanan pori dan menurunkan kekuatan geser material penyusun lereng. Kondisi ini menyebabkan lereng menjadi lebih rentan mengalami kegagalan, terutama pada musim hujan. Metode geolistrik sangat efektif dalam memetakan distribusi air tanah karena material yang jenuh air umumnya memiliki nilai resistivitas yang lebih rendah dibandingkan material yang kering. Informasi mengenai sebaran air tanah sangat penting dalam perencanaan sistem drainase lereng sebagai upaya mitigasi longsor.

Pada kegiatan konstruksi, survei geolistrik sering digunakan untuk mendukung pembangunan jalan raya, bendungan, kawasan industri, pelabuhan, dan bangunan bertingkat. Hasil investigasi dapat memberikan informasi mengenai kedalaman batuan dasar, ketebalan tanah lunak, posisi muka air tanah, serta keberadaan zona lemah yang berpotensi memengaruhi kestabilan lereng galian. Dengan adanya data tersebut, perencana dapat menentukan desain fondasi dan sistem perkuatan lereng yang lebih aman dan ekonomis.
Gambar 2. Pengambilan Data Geolistrik di Area Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Provinsi Jambi

Dalam industri pertambangan, khususnya pertambangan terbuka (open pit mining), kestabilan lereng merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keselamatan operasi. Lereng tambang yang tidak stabil dapat menyebabkan longsoran yang mengancam pekerja, alat berat, dan fasilitas produksi. Metode geolistrik digunakan untuk memetakan zona lemah, bidang diskontinuitas batuan, zona jenuh air, serta ketebalan lapisan penutup (overburden). Hasil survei tersebut kemudian dikombinasikan dengan data geologi teknik, pemboran geoteknik, dan analisis laboratorium untuk menghasilkan desain lereng tambang yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Secara keseluruhan, metode geolistrik resistivitas merupakan salah satu metode investigasi bawah permukaan yang efektif, cepat, dan relatif ekonomis untuk mendukung analisis kestabilan lereng pada kegiatan konstruksi maupun pertambangan. Kemampuannya dalam mengidentifikasi zona pelapukan, bidang gelincir, rekahan batuan, dan distribusi air tanah menjadikan metode ini sebagai alat yang sangat penting dalam kajian geoteknik modern. Integrasi data geolistrik dengan data geologi dan geoteknik lainnya dapat meningkatkan akurasi analisis sehingga risiko longsor dapat diminimalkan dan keselamatan operasional dapat lebih terjamin. 

Informasi lebih lanjut dan layanan kemitraan dapat menghubungi admin@geosriwijaya.com maupun melalui Hotline GN Consulting +62 823-7424-5514/+62 822 8082 8978.

GN Consulting; Professional and Reliable 
Tags: Geolistrik, Kestabilan Lereng
Share: