Misteri Api Bawah Tanah: Membedah Karakter Kebakaran Gambut Indonesia
GN
Admin GN Consulting
Admin Konten
Diterbitkan pada
15 October 2026
Berdasarkan data dari Lahan Gambut (https://pantaugambut.id/), organisasi non pemerintah, Indonesia pada 2026 memegang peranan krusial dalam lanskap ekologi global dengan memiliki lebih dari 13,47 juta hektare lahan gambut tropis yang tersebar di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Luasan raksasa ini ibarat spons penyimpan karbon (carbon sink) yang menyeimbangkan iklim dunia. Namun, secara geologi lingkungan dan hidrologi, hamparan ini tidak lagi seragam. Terdapat polarisasi tajam antara luasan gambut yang masih utuh dengan area yang kini telah bertransformasi menjadi bentang alam rentan api (fire-prone peatlands).
Eskalasi krisis ini terekam jelas dalam anomali data di kuartal akhir 2026. Berdasarkan pantauan satelit LAPAN pada pertengahan Oktober, terdeteksi lebih dari 8.055 titik panas (hotspot) yang membakar lahan gambut hanya dalam kurun waktu satu minggu. Anomali ini menyoroti episentrum spesifik: tutupan gambut di Kalimantan Tengah meledak dengan 5.198 titik panas, disusul oleh lanskap Sumatera Selatan dengan 1.385 titik panas. Kedua provinsi ini secara kumulatif menyumbang lebih dari 80% total luasan gambut yang terbakar secara nasional pada periode tersebut.
Berdasarkan unggahan aktivis kemanusiaan dan relawan Asrul Putra Nanda di Instagram pada 13 Oktober 2026, ia membagikan video perjuangan tim relawan (termasuk Rescue Rumah Zakat) saat menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Terlihat foto api yang bersumber dari bawah tanah, dimana sumber api tersebut masih aktif walaupun api dipermukaan sudah dipadamkan.
Sumber Api Bawah Tanah di Palangka Raya Oktober 2026 (Instagram : Asrul Putra Nanda) Smoldering combustion (pembakaran tanpa nyala api) di Palangka Raya merupakan fenomena kebakaran bawah tanah (subterranean fire) di lahan gambut yang saat ini sedang marak terjadi akibat musim kemarau ekstrem. Berbeda dengan kebakaran hutan biasa yang memicu nyala api besar di permukaan, smoldering combustion terjadi secara perlahan dan membakar material organik di kedalaman tanah. Hal ini membuat api sangat sulit dideteksi secara kasat mata dan sangat menantang untuk dipadamkan. Mengapa lahan gambut dapat mengalami smoldering?
Karakteristik tanah organik – saat lahan mengering akibat kemarau atau sistem kanalisasi yang berlebih, lapisan ini berubah menjadi bahan bakar yang sangat masif.
Bara tersembunyi – api yang semula berada di permukaan, merambat kebawah pori-pori tanah gambut dan menjadi bara api aktif di bawah tanah.
Krisis air pemadam – sulitnya akses air dan dampak kemarau panjang membuat sumber air disekitar lokasi menjadi mengering.
Di kedalaman gambut, suplai oksigen sangat terbatas. Kondisi minim oksigen ini mencegah timbulnya nyala api terbuka (flaming), namun sangat ideal untuk mempertahankan proses pembakaran bara (smoldering). Bara api ini merambat dengan lambat namun persisten, membakar materi organik secara tidak sempurna, dan mampu bertahan berbulan-bulan di bawah tanah tanpa terdeteksi secara visual dari atas.
Sifat tanah yang menolak air inilah yang membuat metode water bombing (pengeboman air dari helikopter) atau penyemprotan permukaan sering kali berujung sia-sia. Air dalam jumlah puluhan ribu liter yang dijatuhkan dari udara hanya akan mengalir di atas permukaan abu layaknya air di atas daun talas, tanpa pernah meresap turun mematikan sumber bara bersuhu ratusan derajat celcius yang berada tepat di bawah kaki para relawan.
Berikut adalah beberapa cara yang dapat digunakan dalam mengatasi api bawah tanah :
Injeksi Bawah Tanah (Peat Spear): Penetrasi langsung menggunakan nosel panjang untuk menyuntikkan air bersurfaktan ke zona bara api guna merusak sifat hidrofobik gambut kering. Teknik ini secara rutin dipraktikkan di Kanada dan Alaska (Amerika Serikat) untuk menangani zombie fires (bara api yang mampu bertahan di bawah salju sepanjang musim dingin).
Parit Isolasi (Trenching): Penggalian parit mekanis menggunakan alat berat hingga menyentuh lapisan tanah mineral atau permafrost untuk memotong jalur perambatan api lateral.
Restorasi Hidrologi (Rewetting) - drain blocking: Pembangunan sekat kanal untuk menahan laju air limpasan dan mencegah irreversible drying sebagai solusi fundamental jangka panjang. Pendekatan pencegahan sistematis ini diimplementasikan secara masif oleh Rusia dengan membanjiri lahan gambut (rewetting) pasca-krisis kabut asap Moskow 2010, serta oleh Inggris Raya (Skotlandia dan Wales) melalui teknik drain/grip blocking atau dengan teknik pembuatan sekat kanal untuk mengunci laju air agar hamparan tetap basah untuk menjaga area gambut dataran tinggi (blanket bog) tetap jenuh air.