Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat diartikan sebagai sebuah wilayah pada daratan yang secara alami dibatasi oleh pembatas topografi (punggungan bukit dan gunung serta morfologi lainnya), berfungsi untuk menerima, menampung, dan mengalirkan air hujan yang jatuh di atasnya melalui sebuah sungai utama menuju ke laut atau ke danau secara alami. Suatu DAS disusun oleh kesatuan sungai dan anak-anak sungai. DAS terdiri dari beberapa Sub-DAS yang merupakan bagian dari DAS yang menerima air hujan dan kemudian mengalirkannya melalui sungai-sungai kecil menuju ke sungai utama.

Berikut adalah beberapa istilah yang berkaitan atau menggunakan DAS sebagai kesamaan berdasarkan Notodiharjo (1982):

  • Watershed dalam artian fisik dan diartikan sebagai sistem air;
  • Catchment Area dalam artian sebagai daerah tangkapan hujan;
  • Drainage basin dalam artian sebagai ledok pengatusan; dan
  • River basin dalam artian sebagai regime sungai.

Daerah Aliran Sungai dapat dianalisa pada Software Global Mapper dengan menggunakan data Digital Elevation Model (DEM). Global Mapper secara otomatis dapat menganalisa keberadaan sungai berdasarkan data elevasi dan morfologi yang terdapat pada DEM, kemudian diinterpretasikan menjadi aliran-aliran sungai yang terhubung membentuk suatu sistem DAS. Berikut adalah langkah-langkah men-generate DAS/Catchment Area menggunakan Global Mapper 18.

  1. Pertama, tentukan lokasi yang akan digunakan untuk membuat model DAS kemudian siapkan data DEM sesuai dengan lokasi yang diinginkan. Pada tutorial ini, data DEM yang digunakan berupa data SRTM_57_13.
  2. Buka aplikasi Global Mapper dan masukkan file data SRTM yang akan digunakan.
  3. Lakukan pemotongan (crop) terlebih dahulu terhadap data SRTM sesuai dengan luasan daerah yang diinginkan. Cropping juga dapat dilakukan dalam bentuk sesuai dengan yang diinginkan menggunakan data polygon yang telah ada.
  4. Gunakan fitur “Generate Watershed” yang dapat diakses pada menu bar “Analysis”.
  5. Pada menu pop up “generate watershed” lakukan pengaturan pada “Stream Cell Count” dan “Depression Fill Depth”.Pengaturan nilai pada opsi Stream Cell Count dilakukan sesuai dengan tingkat kedetailan yang diinginkan, semakin kecil nilai yang digunakan maka akan semakin detail sungai yang dihasilkan, namun dengan konsekuensi proses generate akan berlangsung lebih lama. Pengaturan nilai Depression Fill Depth digunakan untuk mengatur batasan kedalaman depresi/cekungan yang akan digunakan dalam analisa aliran sungai yang dilakukan oleh Global Mapper secara otomatis. Sesuaikan pengaturan nilai dengan kondisi dan kebutuhan.
  6. Setalah semu pengaturan telah selesai, Klik OK. Global Mapper akan men-generate secara otomatis dan akan tampil hasil berupa polyline aliran sungai dan daerah aliran sungai dengan bentuk polygon.

    Jika Anda hanya ingin mendapatkan aliran sungai saja, un-check pada “Create Watershed Areas” Showing Drainage to Streams yang ada pada menu pop up “generate watershed”. Dengan begitu, sistem akan dengan otomatis hanya men-generate aliran sungai saja dalam bentuk polyline.

    Output berupa pola aliran sungai dan polygon daerah aliran sungai kemudian dapat diexport menjadi file .shp atau tipe file lainnya sesuai dengan kebutuhan.

    Referensi:

    Notodiharjo, M., 1982. Pengelolaan Sumberdaya Air untuk Pengembangan Lingkungan Hidup.

    Bagian I Buletin Asosiasi Sumberdaya Air Indonesia (ASM). CV. Serajaya. Jakarta.

     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *